Mengusung Semangat Open Source di Buku Sekolah Elektronik

Departemen pendidikan nasional membuat gebrakan dengan meluncurkan situs buku sekolah elektronik (http://bse.depdiknas.go.id) yang memungkinkan buku pelajaran untuk SD, SMP, SMU dan SMK didownload secara gratis. Depdiknas mengklaim bahwa hal tersebut menjadi tongak reformasi perbukuan nasional, karena  buku sekolah elektronik (BSE)  yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program buku murah depdiknas memungkinkan masyarakat pendidikan untuk mendapatkan akses buku lebih mudah dan lebih murah.
Yang menyebabkan harga buku relatif mahal adalah banyaknya komponen yang harus ditanggung untuk memproduksi buku, diantaranya adalah  bahan baku yang sebagian besar adalah kertas, biaya distribusi, pemasaran dan royalti pengarang. Ide dari BSE ini adalah memotong biaya distribusi, pemasaran dan royalti dari komponen biaya produksi buku sehingga bisa diwujudkan buku murah, dengan cara membeli royalti pengarang dan menyediakan situs khusus yang memungkinkan semua orang untuk mengunduh file BSE tersebut.
Namun peluncuran BSE tersebut juga tidak lepas dari beberapa kritik, diantaranya adalah pertanyaan mengenai ketidakmerataannya akses internet di sekolah-sekolah di Indonesia yang mengakibatkan  siswa kesulitan untuk mendapatkan e-book tersebut, bahkan mungkin tidak hanya internet, komputer bagi siswa di sekolah daerah-daerah mungkin adalah barang mewah, sehingga kualitas sumber daya manusia juga harus menjadi perhatian sehingga masyarakat pendidikan diindonesia bisa memanfaatkan BSE secara optimal.
Pemanfaatan BSE sendiri tidak harus mendownload file e-book secara mandiri, namun penyebarannya juga bisa dengan cara meng-copy file BSE atau mencetaknya, tidak perlu kuatir terjerat oleh UU HAKI karena Hak Cipta Buku tersebut telah dibeli oleh pemerintah. Pihak yang mencetak juga diperbolehkan untuk mesebar luaskan ataupun menjual buku tersebut dengan batasan harga tertentu yang masih jauh dibawah harga normal buku.
fakta dilapangan menunjukkan bahwa kebiasaan orang tidak bisa nyaman membaca buku secara digital, mata akan mudah lelah dan memerlukan istirahat jika digunakan untuk membaca pada monitor lebih dari 20 menit. Oleh sebab itu edisi cetak buku BSE akan lebih dipilih oleh guru dan siswa dibandingkan edisi digitalnya. Edisi digital efektifnya digunakan untuk media distribusi BSE baik lewat situs diinternet maupun lewat Compact Disk yang disebarkan ke sekolah-sekolah yang belum terjangkau oleh sarana internet.
Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya gerakan pemerintah ini mirip dengan gerakan open source yang diutarakan oleh bruce parens. Open source sendiri adalah prinsip dan praktik tentang bagaimana membuat software sehingga bisa digunakan secara bebas bagi penggunanya, kondisi-kondisi yang mempunyai kesamaan dengan BSE antara lain adalah kebebasan dalam pendistribusian serta integritas pengarang/pembuat tetap dijunjung tinggi.
ketika pertama kali open source diperkenalkan, orang-orang meragukan keuntungan yang diperoleh jika mengikuti gerakan tersebut, bayangkan saja jika harus menggratiskan begitu saja hasil kerja keras dalam membuat software. Namun saat itu terdapat perusahan yang memproduksi browser Netscape memberanikan diri untuk terjun ke gerakan open source, justru karena itu mereka berhasil mematahkan pasar browser yang didominasi microsoft dengan Internet Exprorernya. Saat ini pun Netscape yang telah berganti nama menjadi Mozilla Firefox tetap menjadi browser yang paling banyak dipakai didunia.
Namun apa yang menjadi rahasia meraup keuntungan pada gerakan open source? Pada dasarnya gerakan open source bukan sekedar menggratiskan software, namun lebih pada kebebasan dalam pendistribusian dan penggunaanya namun tetap menjunjung tinggi pencipta softwarenya. Ketika seseorang (atau tim) membuat software open source, ia secara otomatis akan mempromosikan dirinya sebagai pembuat software yang handal, yang softwarenya dipakai oleh banyak orang, hal tersebut bisa menjadi promosi yang tak ternilai harganya. Selain itu banyak perusahaan yang meraup untung dari menyediakan service terhadap software open source, memang kebanyakan software open source kurang lengkap baik dalam penyediaan layanan tersebut, sehingga terbuka untuk perusahaan untuk bergerak dalam dukungan service. Service disini bisa berarti layanan installasi, perawatan software, penambahan fasilitas dalam software ataupun penanganan terhadap bug-bug dalam software.
Masalah yang sama juga dialami BSE dalam mendistribusikan buku tersebut, kekuatiran banyak pihak bahwa BSE ini akan mengancam keberadaan industri buku pelajaran sekolah di indonesia membayangi penyebaran BSE. Terobosan BSE yang memotong jalur distribusi buku melalui jalur internet tampaknya mendapat tantangan yang berat, walaupun semua pihak termasuk penerbit buku berhak untuk mengunduh dan mencetak BSE tersebut serta menyebarkannya baik secara gratis maupun dengan menjualnya dengan harga yang tidak melebihi HET  (harga eceran tertinggi), namun ternyata solusi ini agak sulit diterapkan bagi percetakan atau penerbitan karena HET tersebut memang tidak terlalu memperhitungkan aspek biaya distribusi buku dan pemasaran, namun sebenarnya dari sini pihak penerbitan atau percetakan lokal bisa bermain karena jika area pemasarannya didaerah terbatas otomatis biaya pendistibusiannya juga tidak terlalu besar.
Ada beberapa peluang yang bisa diambil dari BSE, mulai dari menjadi pengarang untuk kalangan akademisi, atau menjadi distributor dari BSE untuk kalangan umum baik mendistribusian BSE dalam bentuk digital maupun cetak. Peluang distribusi BSE bentuk digital tersedia karena banyak sekolah diindonesia yang belum terjamah internet baik karena kendala infrastruktur maupun kendala SDM, sedangkan penerbitan dan percetakan lokal diharapkan bisa berkembang dengan terjun di bidang pencetakan BSE ini. Selain itu pemerintah juga perlu memikirkan penetapan HET yang rasional dari BSE sehingga siswa dan guru bisa mendapatkan materi pelajaran mereka secara murah dan mudah serta penerbitan ataupun percetakan tetap bisa mendapatkan keuntungan, karena sebenarnya pihak penerbitan dan percetakan adalah ujung tombak dari kesuksesan pengunaan BSE di sekolah-sekolah di indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s