jump to navigation

all marketing are liar, pengalaman membeli rumah di surabaya Mei 8, 2008

Posted by indrakharisma in rumah.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

dulu, teman saya pernah membeli buku yang berjudul “all marketing are liar”, judulnya sangat prokokatif tapi terus terang saya belum sempat baca bukunya sehingga tidak bisa menceritakan apakah isinya seprofokatif judulnya. saya jadi teringat kembali dengan judul buku tersebut karena saya mengalami pengalaman yang kurang lebih sama dengan judul buku tersebut dalam membeli rumah.

ceritanya berawal ketika saya dan istri saya berencana membeli sebuah rumah di surabaya, karena beberapa faktor kamiĀ  memutuskan untuk memperkecil wilayah pencarian di daerah surabaya timur. disana ada beberapa kandidat perumahan yang sempat kami survey, akhirnya pilihan kami jatuh ke perumahan amerta residence milik PT. Amerta Dirja Putra di daerah wonorejo rungkut. tentu saja kami sangat senang karena akhirnya kami bisa mempunyai rumah sendiri dari tabungan kami sendiri.

tentu saja kami melakukan negosiasi harga dengan marketing PT.Amerta Dirja Putra yang diwakili oleh Taufik Budi W, yang juga sebagai asisten manager marketing. akhirnya kami deal pembelian rumah dengan skema pembayaran sebagai berikut, uang muka 40%, ketika rumah sudah siap untuk saya tempati 35%, dan sisanya sebesar 25% tiga bulan setelah penyerahan bangunan/pembayaran kedua. pihak Amerta menjanjikan 3 bulan setelah deal tersebut (tgl 12 september 2007) yaitu tanggal 12 desember, rumah sudah siap ditempati dan kita melakukan pembayaran kedua.

saat itu marketingnya sih masih manis dan mudah diajak bicara, namun indikasinya berubah ketika kami akan melakukan perjanjian pengikatan jual beli bangunan di notaris, ketika saya minta copy draf perjanjian tersebut pihak amerta menyatakan bahwa perjanjian tersebut ada dinotaris, dan notarisnya tidak memperbolehkan untuk dicopy. namun ketika kami dinotaris kenyataan disana mementahakan semua perkataan pihak amerta (yang diwakili oleh marketingnya taufik), draf perjanjiannya ber kop PT.Amerta Dirja Putra dan perjanjian pembayarannya berubah bukan berdasarkan rumah ready dibayar namun jadi berdasarkan tanggal, akhirnya dinotaris kita seperti negosiasi ulang, dan akhirnya ditambahkan juga tulisan yang mengesahkan pembayaran kedua dilaksanakan ketika rumah ready.

mereka berjanji rumahnya segera dibangun, namun sampai seminggu setelah perjanjian dinotaris ternyata ketika saya kesana pondasi saja belum dibuat, bahkan sama sekali belum tersentuh sama tukang. ketika aku telp taufik ia mengatakan bahwa sudah dibagun, tentu saja saya marah, lha wong belum disentuh sama sekali koq dibilang sudah dibangun. gimana sih?

ketidak beresan kembali muncul ketika bangunan sudah mulai berdiri, ternyata tiang listrik tepat berada di sisi carport, tentu saja saya protes, karena denah awalnya dibalik (kiri jadi kanan dan kanan jadi kiri) sehingga pintu carport tergangu oleh tiang listrik, ketika saya protes saya dijelaskan bahwa itu memang kebijakan proyek untuk unsur estetika perumahan, saya protes dong, koq bisa tiang listrik letaknya di sisi carport, kan menganggu keluar masuk mobil nantinya. mereka berjanji akan segera memindah letak tiang listrik tersebut (namun tiang listrik tersebut masih belum dipindah sampai jangka waktu 6 bulan setelah komplain tersebut- dengan berbagai alasan yang sebenarnya menunjukan ketidak beresan koordinasi PT. Amerta Dirja Putra). yang saya herankan koq bisa ya proyek perumahan gitu koq seperti tidak ada perencanaan, seperti tata letak rumah dan tiang listrik.

tiga bulan berlalu namun rumah masih belum jadi seperti yang mereka janjikan, namun anehnya koq kami di telp pihak keuangan amerta untuk meminta pembayaran kedua, he.. rumah belum jadi koq sudah minta uang pembayaran, kami meminta mereka membaca lagi perjanjian dulu.

bulan berlalu dan tidak ada kepastian kapan rumah kami segera diserah terimakan, kami sudah menempuh berbagai cara mulai dari mentelp marketing amerta taufik budi namun entah mengapa telp saya selalu tidak dijawab atau direject, kadang2 sempat diangkat namun janji adalah janji, tidak ada realisasi, bahkan sebenarnya ketika saya telp taufik yang sering adalah telpnya mati, ketika saya telp kantor amerta, taufiknya selalu di luar kantor.kemudian saya hubungi arsiteknya, arif, namun sama saja janji adalah janji, ia beralasan ia hanyalah arsitek pihak proyek yang melaksanakannya dan kalau kebijakan2 khusus (seperti pindah tiang listrik) itu biasanya marketing yang meminta, soalnya masalah uang kerja tukang dan lain-lain. ribet dan membuat frustasi, masak saya ini beli rumah koq di ping pong seperti ini. yang pasti saya tidak akan membeli rumah di PT. Amerta DIrja Putra lagi, dan saya juga menyarankan andapun tidak. akhirnya ketika saya kekantor meminta kejelasan dan tidak mememuhi taufik, saya langsung ke manager marketingnya hanung prakoso, SE . langsung saja saya minta kejelasan tentag rumah saya. ia menjanjikan akan segera merealisasikan rumah saya. tapi seperti kebiasaan di amerta, janji adalah janji.

suatu saat saya dapat telp dari hanung, ia meminta perjanjian baru, ia janji rumah siap dalam waktu 2 minggu namun saya diminta membayar setengah dari angsuran kedua, saya minta konpensasi, ia menjanjikan PAM dan Listrik masuk dalam 2 minggu tersebut. saya bilang OK, dengan pertimbangan ngalahi suapaya rumah segera selesai, namun saya salah, seperti biasaya amerta mangkir dari janjinya, 2 hari sebelum tanggal janji mereka selesai, rumah sama sekali belum tersentuh, ANJING. saya bodoh percaya lagi dengan amerta, seharusnya saya meminta konpensasi uang jika mereka terlambat, padahal kalau saya telat bayar kami dikenakan denda sebesar 1,5 % flat perbulan.

akhirnya ya belum selesai semua, bahkan catnya pun masih tidak rata, seperti anak SD ngecat rumah saja. MENGECEWAKAN.

sampai tulisan ini ditulis, sudah mundur lebih dari 5 bulan dari janji mereka, namun rumah kami belum juga selesai dibangun.

pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman saya ini
-jangan percaya pada marketing
-jika anda dikenai denda bunga jika anda telat membayar, mintalah denda jika mereka telat menyerahkan bangunan, jika tidak anda harus siap2 seperti saya yang bangunannya tidak kunjung2 selasai

dan yang ini pelajaran untuk saya sendiri
-jangan membeli rumah dari PT.Amerta Dirja Putra Lagi

Komentar»

1. yang harus diperhatikan dalam membeli rumah « indra kharisma - Mei 8, 2008

[...] memutuskan untuk membeli rumah, baca dulu pengalaman saya di artikel ini, http://indrakharisma.wordpress.com/2008/05/08/all-marketing-are-liar-pengalaman-membeli-rumah-di-sur... supaya anda tidak mengalami pengalaman buruk [...]

2. dedsatria - Mei 8, 2008

prihatin…..

3. ronnie muhadi - Mei 15, 2008

wah, kebangeten. Di labrak nang omahe ae ndra. Aq sih akhirnya mutusin beli rumah yg developer nya masih kenalan bapakku, jadi kalau ada apa apa ya tinggal di labrak ae ndra.

Sama kayak deddy, melu prihatin, semoga cepat tuntas.

4. diajeng dewi - Mei 21, 2008

sangat memprihatinkan pengalamannya pak indra, dengan membaca post pak indra ini dewi akan lebih berhati-hati dalam membeli rumah nantinya(kapan ya…hahaha) semoga dewi cepet kaya raya trus punya suami kaya trus nikah trus bisa punya rumah mewah di galaxy sini ajah lah…, amin…
semangat pak!!! dewi selalu mendukungmu…

5. diajeng dewi - Mei 21, 2008

pak indra sakit ya….lekas sembuh ya pak…

6. IrNa Chan - Mei 21, 2008

Asslamualaikum..
Moshi-moshi…
Watashi wa irna chan(”,)
Gakusei no unair fmipa demo watashiwa ja arimasendeshita hanasu kore wa blog indra kharisma sensei… ano,Pt AmerTa???Nan desuka??
Gomen..tottemo gomenasai,Okey??
Sayounara..

indra: waduh, bahasa japan, yang ku tahu hanya haik, arigato kudasai, tapi sayangnya artinya pun aku tak tahu

7. agus - Mei 22, 2008

Pada bulan Juli 2006 saya ambil kredit rumah pada PT. Amerta Dirja Putra (ADP), dan untuk uang muka saya melakukan pembayaran cicilan sebanyak 4x. Pada akhir bulan desember 2006 saya datang ke kantor PT.ADP untuk untuk mengambil dokumen kredit saya karena sudah 6 bulan tapi belum ada konfirmasi. Saya terkejut setelah ada pemberitahuan langsung dari kasir PT.ADP bahwa Uang muka saya belum lunas karena uang cicilan terakhir belum di serahkan oleh marketing ke kasir dan sekarang marketing tersebut sudah keluar bulan Oktober 2006 padahal uang tersebut saya setorkan 31 agustus 2006.
Yang saya kecewakan :
1. Kenapa manajemen dari PT.ADP selama bulan agustus 2006 s/d Desember 2006 tidak pernah konfirmasi bahwa uang muka saya masih kurang.
2. Kalau sudah tahu ada marketing yang bermasalah, kenapa sebelum marketing tersebut dikeluarkan tidak ada konfirmasi ke saya sebagai user.
3. Apa tidak ada training untuk para marketing ADP agar tidak boleh menerima uang pembayaran, Seharusnya Marketing yang lain juga khan harus mengingatkan, lha bayarnya di Kantor yang ramai penuh dengan marketing dan kepala marketing kok diem aja semuanya tidak ada yang mengingatkan.

Saya tidak banyak mengerti hukum, tapi kalau memang secara hukum saya yang bersalah karena teledor, saya berharap lain kali PT.ADP jika buka lowongan marketing harap mencari orang yang mempunyai kejujuran dan tanggung jawab. Sekarang saya harus mencicil lagi uang yang sudah pernah saya bayarkan.

Terima kasih.